Setiap orang
harus waspada dari tipuan nafsunya guna menghadapi sebab-sebab ini. Hal ini
sangat penting. Dengan demikian seorang tahu bahwa kemaksiatan dan kelalaian
termasuk sebagian sebab yang membahayakan dirinya di dunia maupun di akhirat. Dan
ini mesti terjadi. Akan tetapi ia tertipu oleh hawa nafsunya sendiri. Tipuan ini
terkadang berupa bersabar dengan pengampunan allah, menangguhkan tobat dan
memohon ampun dengan lisan, melakukan hal-hal yang hukumnya sunat, beralasan
bahwa maksiat yang di lakukan itu karena telah ditakdirkan oleh allah atau
beralasan dengan hal-hal semacam itu, atau terkadang dengan cara mengikuti
jejak orang-orang bersabar.
Rabu, 29 Agustus 2012
Selasa, 14 Agustus 2012
SEJARAH MENOLONG KITA MEMAHAMI WAHYU
Cara
yang paling efektif untuk mengetahui kejadian sejarah adalah dengan mempelajari
dan mendalami kandungan al qur’an, karena semua itu sudah terkandung didalamnya
secara sempurna. Di sana dijelaskan pula sebab-sebab terjadinya kebaikan dan
kejahatan secara lengkap, rinci dan jelas. Kemudian mempelajari as sunah
sebagai penjelas kandungan al qur’an, sunah nabi adalah wahyu kedua. Keduanya adalah sumber yang lengkap sebagai
rujukan bagi orang yang menghendakinya, disbanding dengan lainya. Keduanya akan
menjelaskan kepada anda tentang kebaikan, kejahatan serta sebab musababnya. Sehingga
anda bisa melihat hubungan sebab akibat dengan jelas. Jika anda mempelajari
kisah-kisah umat masa lampau dan ketentuan-ketentuan allah terhadap hamba-nya
yang taat dan yang durhaka, maka kisah-kisah yang diceritakan allah dalam al
qur’an secara rinci, sekaligus hukuman yang di janjikan oleh allah kepada
mereka.
Dan
anda akan mengetahui tanda-tanda kekuasaan-nya di jangat ini. Semua itu
menunjukkan kepada anda bahwa al qur’an itu benar, rasul itu benar, dan
sesungguhnya allah pasti akan melaksanakan janji-nya. Sejarah adalah rincian
dari bagian-bagian sesuatu yang dengannya kita ketahui tentang allah dan
rasul-nya, termasuk sebab-sebab yang menyangkut kebaikan dan kejahatan.
HUBUNGAN KEBAIKAN DAN KEJELEKAN DENGAN AMAL
Di
dalam al qur’an allah swt. Menghubungkan terjadinya kebaikan di dunia dan
akhirat serta terjadinya kejelekan di dunia dan akhirat dengan segala amal
perbuatan. Sebagaimana dikaitkanya pembalasan seelah adanya syarat, di beri
alasan setelah dan akibat setelah sebab. Masalah ini di dalam al qur’an
disebutkan lebih dari seribu tempat.
Suatu
ketika allah meletakkan hukum ala mini dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan syariat agama setelah adanya sifat yang sesuai dengannya, sebagaimana
firman allah swt:
“ maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang di
larang mereka mengerjakanya. Kami katakana kepada mereka, jadilah kamu kera
yang hina.”(QS. Al A’raf: 166)
“maka tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum
mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya(di dalam laut).” (QS. Az Zukhruf:
55)
“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri,
potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al Maidah: 38)
“sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki
dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatanya,
laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar,
laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki
dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki
dan perempuan yang menjaga kehormatanya, laki-laki dan perempuan yang banyak
menyebut (nama) allah, allah telah menyediakan untu mereka ampunan dan pahala
yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
Dua ayat-ayat yang seperti ini
masih banyak lagi.
Suatu ketika allah menghubungkanya
dengan menggunakan susunan syarat dan balasanya, sebagai mana disebutkan dalam
firmanya:
“ jika kamu bertakwa kepada allah,
niscaya dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu.” (QS. Al anfal: 29)
“jika mereka bertobat, mendirikan
shalat dan menunaikan zakat maka (mereka itu) adalah saudara-saudara seagama.”
(QS. At Taubah: 11)
“dan bahwasanya: jika mereka tetap
berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), benar-benar kami akan memberi
minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (QS. Al jin: 16)
Suatu ketika pula allah menggunakan
lam ta’lil (lam yang berfungsi untuk memberikan alas an,-penerj.) sebagaimana
disebutkan dalam firman-nya:
“supaya mereka memperhatikan
ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang mempunyai
pikiran.” (QS. Shad: 29)
“…agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)
kamu.” (QS. Al Baqarah: 143)
Terkadang menggunakan partikel
‘kay’ yang mempunyai arti memberikan argumentasi, sebagai mana firman allah
swt. :
“… supaya harta itu tidak hanya
beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu. (QS. Al hasyr: 7)
Terkadang juga menggunakan ba’
sababiyah (untuk menerangkan akibat dari suatu perbuatan,-penerj.), sebagai
mana tercantum dalam firmanya:
“…(azab) yang demikian itu adalah
disebabkan perbuatan tanganmu sendiri.” (QS.Ali Imran: 182)
“…(dia akan menerangkan kepadamu)
apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al
Maidah: 105)
“…(maka rasakanlah siksaan) karena
perbuatan yang telah kamu lakukan.” (QS. Al A’raf: 39)
“… yang demikian itu karena mereka
kafir kepada ayat-ayat allah.” (QS. Ali Imran: 112)
Terkadang pula menggunakan maf’ul li-ajlih
(menjelaskan tentang sesuatu yang dilakukan demi kepentingan tertentu,-penerj.)
baik dijelaskan secara lafal atau dibuang, sebagaimana tercantum dalam
firman-nya:
“…(jika tak ada dua orang
laki-laki), maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari
saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi
mengingatkannya.” (QS. AL Baqarah: 282)
“…(kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan,’sesungguhnya kami (bani adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap masalah ini (ke-esaan allah).” (QS. Al
A’raf: 172)
“…(kami turunkan al qur’an
itu) agar kamu (tidak)
mengatakan,’bahwavkitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum
kami.” (QS. Al An’am: 156)
Terkadang menggunakan fa’
sababiyah, sebagaimana disebutkan dalam firman-nya:
“lalu mereka mendustakanya dan
menyembelih unta itu. Maka, tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka,
lalu allah menyamaratakan mereka(dengan tanah).” (QS. Asy Syams: 14)
“maka (masing-masing) mereka
mendurhakai rasul tuhan mereka, lalu allah menyiksa mereka dengan siksaan yang
sangat keras.” (QS. Al Haqqah: 10)
“maka(tetaplah) mereka mendustakan
keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan.” (QS.
Al Mukminun: 48)
Terkadang menggunakan partikel
‘lamma’ yang menunjukkan adanya pembalasan, sebagaimana tersebut dalam
firman-nya:
“maka tatkala membuat kami murka,
kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (QS.
Az Zukhruf: 55)
Terkadang menggunakan ‘inna dan
yang sepandan’, sebagaimana tersebut dalam firman-nya:
“… seungguhnya mereka adalah
orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang
baik.” (QS. Al Anbiya: 90)
Dan firman mengenai golongan
kebalikan mereka:
“… seungguhnya bmereka adalah kaum
yang jahat, maka kami tengelamkan mereka semuanya.” (QS. Al Anbiya: 77)
Menggunakan partikel ‘Laula’ yang
menunjukkan hubungan kata, sebelumnya dengan yang sesudahnya, sebagai mana
tersebut dalam firman-nya:
“maka kalau sekiranya dia tidak
termasuk orang-orang yang banyak mengingat allah, niscaya ia akan tetap tinggal
di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”(QS. Ash Shaffat: 143-144)
Terkadang menggunakan ‘lau’ yang
menunjukkan syarat, sebagaimana fiman-nya:
“… dan sesungguhnya kalau mereka
melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tetulah hal yang demikian
itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (imam mereka).” (QS. An Nisa:
66)
Kesimpulanya, al qur’an mulai dari
awal sampai akhir dengan jalan menerangkan tentang hubungan balasan kebaikan
dan kejahatan hukum-hukum alam dan perintah agama sesuai dengan sebab akibat,
bahkan hubungan hukum-hukum duniawi dan ukhrawi, kebaikan dan kejelekanya tergantung
kepada sebab akibat dan amal-amal yang dilakukanya.
Orang yang mau memikirkan masalah
ini dengan pemikiran yang jernih niscaya ia dapat mengambil manfaat secara
maksimal dan tidak akan menggantungkan diri kepada takdir yang belum diketahui.
Lemah, gegabah, dan lalai. Sehingga sifat tawakalnya itu suatu kelemahan dan
kelemahanya adalah tawakalnya. ( antara tawakal dan kelemahanya tidak dapat
dibeda-bedakan,-penerj.)
Orang faqih benar-benar paham pada
agama adalah orang yang dapat menolak atau menghalangi takdir allah dengan
menggunakan takdir itu sendiri. Bahkan tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa
mempunyai sikap yang demikian. Ketahuilah, bahwasanya lapar, dahaga, dingin,
dan segala macam rasa khawatir dan takut berasal dari takdir. Sedangkan manusia
kebanyakan lupa menghalau takdir allah dengan menggunakan takdir itu sendiri.
Demikianlah orang yang telah
mendapatkan petunjuk dan ilham kebenaran dari allah. Ia akan berusaha menolak
takdir siksa di akhirat dengan menggunakan takdir bertobat, iman dan amal-amal
shaleh. Demikianlah keseimbangan takdir yang terjadi di dunia dan kebalikanya
adalah sama. Tuhan yang menguasai kedua ala mini (dunia dan akhirat) adalah
satu dan kebijaksanaanya pun juga hanya satu. Satu sama lain tidak saling
bertentangan dan tidak saling membatalkan.
Masalah ini penting untuk diketahui
bagi orang yang ingin memahami kedudukan takdir dalam kehidupan. Hanya kepada
allah-lah kita memohon pertolongan.
Tetapi, di sini masi ada dua
masalah yang dapat menuntukan kebahagiaan dan keberuntungan seseorang.
Di antaranya, ia harus mengetahui
rincian masing-masing sebab terjadinya kejelekan dan kebaikan. Ia harus peka
dan waspada terhadap sebab-sebab tersebut sesuai dengan kejadian yang ia liat
di dunia ini. Atau yang terjadi atas dirinya dan orang lain, termasuk apa yang
pernah ia dengar tentang cerita orang-orang dulu dan orang-orang sekarang.
Senin, 13 Agustus 2012
UMAR RA. MOHON KEMENANGAN DENGAN BERDOA
Para
sahabat Nabi Saw. Adalah orang yang paling mengenal allah dan rasul-nya. Orang yang
paling pandai di bidang ilmu agama. Mereka adalah orang-orang yang paling teguh
melakukan sebab, syarat, dan tata krama berdoa dibanding yang lain.
Sahabat
Umar bin khattab ra. Dalam mengalahkan musuhnya, beliau senantiasa memohon
pertolongan kepada allah. Doa, menurut pendapatnya merupakan tentara yang
paling penting. Beliau pernah berkata kepada teman-temanya,”kalian mendapatkan
kemenangan bukan karena jumlah kalian yang banyak, tapi kalian mendapatkan
kemenangan karena ada pertolongan yang datang dari langit.” Beliau juga pernah
mengatakan,” aku tidak akan merasa susah karena doaku tidak terkabulkan, akan
tetapi aku susah karena doa itu sendiri. Apabila kalian telah mendapatkan ilham
untuk berdoa, maka terkabulnya doa itu adalah bersama dengan doa itu sendiri. Beliau
kemudian mensistir sebuah syair:
“jika anda tidak menginginkan tercapainya apa yang aku
harapkan dan yang aqu mohonkan dari kedua telapak tanganku, tentu anda tidak
akan menyuruh aku membiasakan meminta.”
Barang siapa
yang telah mendapatkan ilham untuk berdoa, maka berarti doanya akan dikabulkan.
Allah swt. Berfirman:
“berdoalah kepada-ku, niscaya akan ku-perkenankan bagimu.” (QS.Ghafir: 60)
“dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu tentang aku,
maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabarkan permohonan orang
yang mendoakan apabila ia berdoa kepada-ku.”(QS. Al Baqarah: 186)
Dalam kitab
sunan ibnu majah ada ebuah hadis yang bersumber dari abu hurairah, rasulullah
saw. Bersabda:
“siapa saja yang tidak mau memohon kepada allah, niscaya
allah akan murka kepadanya.”
Ini menunjukan
bahwa ridha allah swt. Tergantung kepada permohonan dan ketaatan seseorang. Apabila
tuhan yang maha memberkahi dan maha tinggi telah ridha atas diri seseorang,
maka setiap kebaikan yang dilakukan berada dalam ridhanya. Begitu juga
kemaksiatan yang ia lakukan berada dalam kemurkaan-nya.
Imam ahmad
dalam kitab az-zuhud menyebutkan sebuah atsar yang artinya,”aku adalah allah,
tiada tuhan selain aku. Apa bila aku telah rela atas sesuatu maka aku akan
memberikan berkah, dan berkah-ku tidak akan habisnya jika aku murka atas suatu
perkara nicaya aku akan melaknatinya. Sedangkan laknat-ku akan berlangsung
sampai tujuh ampunan.”
Dalil-dalil
yang bersumber dari al-qur’an, hadis, akal dan penyelidikan bangsa-bangsa yang
berlainan suku bangsa, agama, dan rasnya, telah menunjukan bahwa mendekatkan
diri kepada zat penguasa alam semesta, mengharap ridha-nya, berbuat baik kepada
sesama makhluk allah, adalah sebab yang paling utama guna mendatangkan setiap
kebaikan. Sebaliknya kemaksiatan adalah sebab yang paling besar dalam
mendatangkan setiap kejelekan. Dengan demikian, maka tidak mungkin dapat
mendapatkan nikmat allah serta dapat menolak siksa-nya kecuali hanya dengan
cara berlaku taat dan mendekatkan diri pada-nya disamping berbuat baik kepada sesama
makhluk-nya
DOA ADALAH SEBAB YANG PALING KUAT
Dengan demikian, maka doa merupakan sebab yang paling kuat. Apabila
dengan berdoa ia memperoleh apa yang diminta, maka tidak boleh dikatakan bahwa
doa itu tidak berguna sama sekali. Sebagaimana tidak boleh dikatakan makan,
minum, semua usaha dan amal perbuatan itu tidak ada gunanya sama sekali. Tidak ada
sedikitpun sebab lebih bermanfaat dan lebih dapat menghasilkan sesuatu yang
diharapkan disbanding dengan doa.
Read More
DOA DAN QADAR
Dalam masalah ini terdapat pernyataan yang sangat terkenal,
yaitu:
Bahwa
sesuatu yang diminta bila telah ditakdirkan oleh allah, maka hal tersebut mesti
terjadi baik hamba tersebut berdoa maupun tidak. Apabila yang diminta itu tidak
ditakdirkan oleh allah, maka hal tersebut tidak munggkin terjadi, baik hamba
itu memintanya atau tidak.
Ada
sekelompok orang yang membenarkan pernyataan ini, sehingga mereka tidak perlu
berdoa. Meraka mengataka, doanya tidak berguna sama sekali. Di antara kelompok
ini sendiri juga timbul bertentangan. Kekerasan pendapatnya itu mengakibatkan
tidak dipenuhinya semua sebab, sehingga ada yang mengatakan kepada mereka:
Jika
kenyang dan rasa segar itu keduanya telah ditakdirkan atas kamu, maka keduanya
mesti terjadi, baik kamu makan atau tidak. Apabila kedua-duanya tidak di
takdirkan, maka hal itu tidak mungkin terjadi baik kamu makan atau kamu tidak
makan.
Apabila
kamu telah ditakdirkan mempunyai seorang anak, maka hal itu mesti terjadi, baik
kamu melakukan persetubuhan dengan istri maupun tidak. Bila kamu tidak
ditakdirkan mempunyai anak, maka hal itu tidak akan terjadi. Sehingga kamu
tidak perlu beristri atau memelihara gundik. Begitu seterusnya.
Maka,
pantaskah manusia yang berakal ini berpendapat demikian? Sedang hewan saja
tetap terikat hukum sebab musabab guna melangsungkan kehidupanya. Maka, orang
yang berpendapat demikian sama dengan bintang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Satu sama
lain antara mereka saling menampakan kepandaiannya. Ada yang mengatakan, “menyibukkan
diri dalam berdoa adalah termsuk kategori ibadah murni yang mana allah akan
memberikan pahala kepada orang yang berdoa. Dengan cara apapun doa tersebut
tidak akan membuahkan hasil sesuai dengan yang diminta. Di sini, menurut
pendapat orang yang berlagak pandai ini tidak ada perbedaan antara berdoa dan
tidak berdoa dengan sepenuh hati dan mulut dalam hal menghasilkan sesuatu yang
diminta. Menurut mereka hubungan doa dengan keberhasilan sesuatu yang diminta
adalah sama dengan hubungan diam tak berdoa tidak ada bedanya sama sekali.
Kelompok
lain yang lebih pandai dari mereka berpendapat: bahwa doa merupakan suatu tanda
yang ditancapkan oleh allah swt. Sebagai bukti atas terpenuhinya suatu
kebutuhan. Apabila allah berkenan mengabulkan doa seorang hamba, maka ini
berarti suatu tanda dan bukti bahwa kebutuhanny telah terpenuhi. Hal ini sama
halnya bila kamu melihat adanya awan hitam yang dingin di musim hujan. Itu sebagai
tanda akan turun hujan.
Mereka mengatakan,
itu akibat dari ketaatan yang akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, kekufuran
dan kemaksiatan akan mendapatkan siksa. Ini sebagai bukti adanya pahala
siksaan, bukan suatu sebab terjadinya pahala dan siksaan tadi.
Demikian
juga menurut mereka masalah pecah dan pemecahan, terbakar dan pembakaran,
terlepasnya nyawa dan pembunuhan. Hal tersebut bukan merupakan suatu sebab yang
pasti. Juga tidak ada hubungan sebab musabab antara keduanya, kecuali hnya
kebetulan belaka. Bukan hubungan sebab akibat.
Dengan demikian
berarti mereka telah menentang perasaan, pikiran, syri’at agama, dan fitrahnya
sendiri. Mereka ditertawakan oaring-orang yang berakal.
Yang benar
adalah kelompok yang ketiga yang tidak disebutkan oleh si penanya, yakni
sesuatu yang telah ditakdirkan allah itu bisa terjadi sesuai dengan kadar
penyebabnya, di antara penyebabnya adalah doa. Sesuatu perkara tidak akan
terjadi tanpa ada penyebabnya. Tetapi hal itu terjadi sesuai dengan kadar sebab
yang dilakukan.
Apabila
seorang hamba melakukan suatu sebab, maka akan terjadi sesuatu yang
ditakdirkan. Tetapi bila ia tidak melakukan penyebabnya, maka tidak akan
terjadi sesuatu yang di takdirkan. Misalnya, takdir kenyang dan segar setelah
makan dan minum. Takdir punya anak setelah adanya persetubuhan. Takdir memperoleh
hasil pertanian sebab menebarkan benih. Takdir keluarnya nyawa seekor hewan
karena disembelih. Demikian pula takdir masuk surge karena amal-amalnya pula.
Pendapat
inilah yang benar. Namun pendapat ini ditolak si penanya, sebab tidak
sependapat dengannya.
SYARAT-SYARAT TERKABULNYA DOA
Doa-doa dan ta’awudz kedudukannya sama dengan kedudukan
senjata. Senjata dapat membahayakan orang lain bukan hanya karena ketajamanya
saja.
Jika
senjata tersebut benar-benar sempurna, tidak terdapat cacat sedikit pun, sedang
tangan yang menggunakannya adalah tangan orang yang kekar, dan disana tidak
terdapat sesuatu yang menghalanginya, maka senjata tersebut dapat melukai
musuh. Apa bila salah satu ketentuan tersebut tidak terpenuhi maka hasilnya
akan berbeda.
Apabila
doa yang dibacanya itu tidak benar, atau ketika berdoa orang tersebut tidak
sepenuh hati, atau disana terdapat sesuatu yang dapat menghalangi terkabulnya
doa, maka doa tersebut tidak akan menghasilkan sesuatu.
Langganan:
Komentar (Atom)
