Rabu, 29 Agustus 2012

TIPUAN NAFSU SEKITAR BEBERAPA SEBAB

0


                Setiap orang harus waspada dari tipuan nafsunya guna menghadapi sebab-sebab ini. Hal ini sangat penting. Dengan demikian seorang tahu bahwa kemaksiatan dan kelalaian termasuk sebagian sebab yang membahayakan dirinya di dunia maupun di akhirat. Dan ini mesti terjadi. Akan tetapi ia tertipu oleh hawa nafsunya sendiri. Tipuan ini terkadang berupa bersabar dengan pengampunan allah, menangguhkan tobat dan memohon ampun dengan lisan, melakukan hal-hal yang hukumnya sunat, beralasan bahwa maksiat yang di lakukan itu karena telah ditakdirkan oleh allah atau beralasan dengan hal-hal semacam itu, atau terkadang dengan cara mengikuti jejak orang-orang bersabar.
Read More

Selasa, 14 Agustus 2012

SEJARAH MENOLONG KITA MEMAHAMI WAHYU

0

                Cara yang paling efektif untuk mengetahui kejadian sejarah adalah dengan mempelajari dan mendalami kandungan al qur’an, karena semua itu sudah terkandung didalamnya secara sempurna. Di sana dijelaskan pula sebab-sebab terjadinya kebaikan dan kejahatan secara lengkap, rinci dan jelas. Kemudian mempelajari as sunah sebagai penjelas kandungan al qur’an, sunah nabi adalah wahyu kedua.  Keduanya adalah sumber yang lengkap sebagai rujukan bagi orang yang menghendakinya, disbanding dengan lainya. Keduanya akan menjelaskan kepada anda tentang kebaikan, kejahatan serta sebab musababnya. Sehingga anda bisa melihat hubungan sebab akibat dengan jelas. Jika anda mempelajari kisah-kisah umat masa lampau dan ketentuan-ketentuan allah terhadap hamba-nya yang taat dan yang durhaka, maka kisah-kisah yang diceritakan allah dalam al qur’an secara rinci, sekaligus hukuman yang di janjikan oleh allah kepada mereka.
                Dan anda akan mengetahui tanda-tanda kekuasaan-nya di jangat ini. Semua itu menunjukkan kepada anda bahwa al qur’an itu benar, rasul itu benar, dan sesungguhnya allah pasti akan melaksanakan janji-nya. Sejarah adalah rincian dari bagian-bagian sesuatu yang dengannya kita ketahui tentang allah dan rasul-nya, termasuk sebab-sebab yang menyangkut kebaikan dan kejahatan.
Read More

HUBUNGAN KEBAIKAN DAN KEJELEKAN DENGAN AMAL

0

                Di dalam al qur’an allah swt. Menghubungkan terjadinya kebaikan di dunia dan akhirat serta terjadinya kejelekan di dunia dan akhirat dengan segala amal perbuatan. Sebagaimana dikaitkanya pembalasan seelah adanya syarat, di beri alasan setelah dan akibat setelah sebab. Masalah ini di dalam al qur’an disebutkan lebih dari seribu tempat.
                Suatu ketika allah meletakkan hukum ala mini dan segala sesuatu yang berhubungan dengan syariat agama setelah adanya sifat yang sesuai dengannya, sebagaimana firman allah swt:
“ maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang di larang mereka mengerjakanya. Kami katakana kepada mereka, jadilah kamu kera yang hina.”(QS. Al A’raf: 166)
“maka tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya(di dalam laut).” (QS. Az Zukhruf: 55)
“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Maidah: 38)
“sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatanya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’,  laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatanya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) allah, allah telah menyediakan untu mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
Dua ayat-ayat yang seperti ini masih banyak lagi.
Suatu ketika allah menghubungkanya dengan menggunakan susunan syarat dan balasanya, sebagai mana disebutkan dalam firmanya:
“ jika kamu bertakwa kepada allah, niscaya dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu.” (QS. Al anfal: 29)
“jika mereka bertobat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat maka (mereka itu) adalah saudara-saudara seagama.” (QS. At Taubah: 11)
“dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (QS. Al jin: 16)
Suatu ketika pula allah menggunakan lam ta’lil (lam yang berfungsi untuk memberikan alas an,-penerj.) sebagaimana disebutkan dalam firman-nya:
“supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)
“…agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al Baqarah: 143)
Terkadang menggunakan partikel ‘kay’ yang mempunyai arti memberikan argumentasi, sebagai mana firman allah swt. :
“… supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu. (QS. Al hasyr: 7)
Terkadang juga menggunakan ba’ sababiyah (untuk menerangkan akibat dari suatu perbuatan,-penerj.), sebagai mana tercantum dalam firmanya:
“…(azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri.” (QS.Ali Imran: 182)
“…(dia akan menerangkan kepadamu) apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al  Maidah: 105)
“…(maka rasakanlah siksaan) karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” (QS. Al A’raf: 39)
“… yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat allah.” (QS. Ali Imran: 112)
 Terkadang pula menggunakan maf’ul li-ajlih (menjelaskan tentang sesuatu yang dilakukan demi kepentingan tertentu,-penerj.) baik dijelaskan secara lafal atau dibuang, sebagaimana tercantum dalam firman-nya:
“…(jika tak ada dua orang laki-laki), maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.” (QS. AL Baqarah: 282)
“…(kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan,’sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap masalah ini (ke-esaan allah).” (QS. Al A’raf: 172)
“…(kami turunkan al qur’an itu)  agar kamu (tidak) mengatakan,’bahwavkitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami.” (QS. Al An’am: 156)
Terkadang menggunakan fa’ sababiyah, sebagaimana disebutkan dalam firman-nya:
“lalu mereka mendustakanya dan menyembelih unta itu. Maka, tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu allah menyamaratakan mereka(dengan tanah).” (QS. Asy Syams: 14)
“maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul tuhan mereka, lalu allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.” (QS. Al Haqqah: 10)
“maka(tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan.” (QS. Al Mukminun: 48)
Terkadang menggunakan partikel ‘lamma’ yang menunjukkan adanya pembalasan, sebagaimana tersebut dalam firman-nya:
“maka tatkala membuat kami murka, kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (QS. Az Zukhruf: 55)
Terkadang menggunakan ‘inna dan yang sepandan’, sebagaimana tersebut dalam firman-nya:
“… seungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik.” (QS. Al Anbiya: 90)
Dan firman mengenai golongan kebalikan mereka:
“… seungguhnya bmereka adalah kaum yang jahat, maka kami tengelamkan mereka semuanya.” (QS. Al Anbiya: 77)
Menggunakan partikel ‘Laula’ yang menunjukkan hubungan kata, sebelumnya dengan yang sesudahnya, sebagai mana tersebut dalam firman-nya:
“maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”(QS. Ash Shaffat: 143-144)
Terkadang menggunakan ‘lau’ yang menunjukkan syarat, sebagaimana fiman-nya:
“… dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tetulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (imam mereka).” (QS. An Nisa: 66)
Kesimpulanya, al qur’an mulai dari awal sampai akhir dengan jalan menerangkan tentang hubungan balasan kebaikan dan kejahatan hukum-hukum alam dan perintah agama sesuai dengan sebab akibat, bahkan hubungan hukum-hukum duniawi dan ukhrawi, kebaikan dan kejelekanya tergantung kepada sebab akibat dan amal-amal yang dilakukanya.
Orang yang mau memikirkan masalah ini dengan pemikiran yang jernih niscaya ia dapat mengambil manfaat secara maksimal dan tidak akan menggantungkan diri kepada takdir yang belum diketahui. Lemah, gegabah, dan lalai. Sehingga sifat tawakalnya itu suatu kelemahan dan kelemahanya adalah tawakalnya. ( antara tawakal dan kelemahanya tidak dapat dibeda-bedakan,-penerj.)
Orang faqih benar-benar paham pada agama adalah orang yang dapat menolak atau menghalangi takdir allah dengan menggunakan takdir itu sendiri. Bahkan tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa mempunyai sikap yang demikian. Ketahuilah, bahwasanya lapar, dahaga, dingin, dan segala macam rasa khawatir dan takut berasal dari takdir. Sedangkan manusia kebanyakan lupa menghalau takdir allah dengan menggunakan takdir itu sendiri.
Demikianlah orang yang telah mendapatkan petunjuk dan ilham kebenaran dari allah. Ia akan berusaha menolak takdir siksa di akhirat dengan menggunakan takdir bertobat, iman dan amal-amal shaleh. Demikianlah keseimbangan takdir yang terjadi di dunia dan kebalikanya adalah sama. Tuhan yang menguasai kedua ala mini (dunia dan akhirat) adalah satu dan kebijaksanaanya pun juga hanya satu. Satu sama lain tidak saling bertentangan dan tidak saling membatalkan.
Masalah ini penting untuk diketahui bagi orang yang ingin memahami kedudukan takdir dalam kehidupan. Hanya kepada allah-lah kita memohon pertolongan.
Tetapi, di sini masi ada dua masalah yang dapat menuntukan kebahagiaan dan keberuntungan seseorang.
Di antaranya, ia harus mengetahui rincian masing-masing sebab terjadinya kejelekan dan kebaikan. Ia harus peka dan waspada terhadap sebab-sebab tersebut sesuai dengan kejadian yang ia liat di dunia ini. Atau yang terjadi atas dirinya dan orang lain, termasuk apa yang pernah ia dengar tentang cerita orang-orang dulu dan orang-orang sekarang.
Read More

Senin, 13 Agustus 2012

UMAR RA. MOHON KEMENANGAN DENGAN BERDOA

0

                Para sahabat Nabi Saw. Adalah orang yang paling mengenal allah dan rasul-nya. Orang yang paling pandai di bidang ilmu agama. Mereka adalah orang-orang yang paling teguh melakukan sebab, syarat, dan tata krama berdoa dibanding yang lain.
                Sahabat Umar bin khattab ra. Dalam mengalahkan musuhnya, beliau senantiasa memohon pertolongan kepada allah. Doa, menurut pendapatnya merupakan tentara yang paling penting. Beliau pernah berkata kepada teman-temanya,”kalian mendapatkan kemenangan bukan karena jumlah kalian yang banyak, tapi kalian mendapatkan kemenangan karena ada pertolongan yang datang dari langit.” Beliau juga pernah mengatakan,” aku tidak akan merasa susah karena doaku tidak terkabulkan, akan tetapi aku susah karena doa itu sendiri. Apabila kalian telah mendapatkan ilham untuk berdoa, maka terkabulnya doa itu adalah bersama dengan doa itu sendiri. Beliau kemudian mensistir sebuah syair:
“jika anda tidak menginginkan tercapainya apa yang aku harapkan dan yang aqu mohonkan dari kedua telapak tanganku, tentu anda tidak akan menyuruh aku membiasakan meminta.”
                Barang siapa yang telah mendapatkan ilham untuk berdoa, maka berarti doanya akan dikabulkan. Allah swt. Berfirman:
“berdoalah kepada-ku, niscaya akan ku-perkenankan bagimu.”  (QS.Ghafir:  60)
“dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabarkan permohonan orang yang mendoakan apabila ia berdoa kepada-ku.”(QS. Al Baqarah: 186)
                Dalam kitab sunan ibnu majah ada ebuah hadis yang bersumber dari abu hurairah, rasulullah saw. Bersabda:
“siapa saja yang tidak mau memohon kepada allah, niscaya allah akan murka kepadanya.”
                Ini menunjukan bahwa ridha allah swt. Tergantung kepada permohonan dan ketaatan seseorang. Apabila tuhan yang maha memberkahi dan maha tinggi telah ridha atas diri seseorang, maka setiap kebaikan yang dilakukan berada dalam ridhanya. Begitu juga kemaksiatan yang ia lakukan berada dalam kemurkaan-nya.
                Imam ahmad dalam kitab az-zuhud menyebutkan sebuah atsar yang artinya,”aku adalah allah, tiada tuhan selain aku. Apa bila aku telah rela atas sesuatu maka aku akan memberikan berkah, dan berkah-ku tidak akan habisnya jika aku murka atas suatu perkara nicaya aku akan melaknatinya. Sedangkan laknat-ku akan berlangsung sampai tujuh ampunan.”
                Dalil-dalil yang bersumber dari al-qur’an, hadis, akal dan penyelidikan bangsa-bangsa yang berlainan suku bangsa, agama, dan rasnya, telah menunjukan bahwa mendekatkan diri kepada zat penguasa alam semesta, mengharap ridha-nya, berbuat baik kepada sesama makhluk allah, adalah sebab yang paling utama guna mendatangkan setiap kebaikan. Sebaliknya kemaksiatan adalah sebab yang paling besar dalam mendatangkan setiap kejelekan. Dengan demikian, maka tidak mungkin dapat mendapatkan nikmat allah serta dapat menolak siksa-nya kecuali hanya dengan cara berlaku taat dan mendekatkan diri pada-nya disamping berbuat baik kepada sesama makhluk-nya
Read More

DOA ADALAH SEBAB YANG PALING KUAT

0
              Dengan demikian, maka doa merupakan sebab yang paling kuat. Apabila dengan berdoa ia memperoleh apa yang diminta, maka tidak boleh dikatakan bahwa doa itu tidak berguna sama sekali. Sebagaimana tidak boleh dikatakan makan, minum, semua usaha dan amal perbuatan itu tidak ada gunanya sama sekali. Tidak ada sedikitpun sebab lebih bermanfaat dan lebih dapat menghasilkan sesuatu yang diharapkan disbanding dengan doa.
Read More

DOA DAN QADAR

0
                Dalam masalah ini terdapat pernyataan yang sangat terkenal, yaitu:
                Bahwa sesuatu yang diminta bila telah ditakdirkan oleh allah, maka hal tersebut mesti terjadi baik hamba tersebut berdoa maupun tidak. Apabila yang diminta itu tidak ditakdirkan oleh allah, maka hal tersebut tidak munggkin terjadi, baik hamba itu memintanya atau tidak.
                Ada sekelompok orang yang membenarkan pernyataan ini, sehingga mereka tidak perlu berdoa. Meraka mengataka, doanya tidak berguna sama sekali. Di antara kelompok ini sendiri juga timbul bertentangan. Kekerasan pendapatnya itu mengakibatkan tidak dipenuhinya semua sebab, sehingga ada yang mengatakan kepada mereka:
                Jika kenyang dan rasa segar itu keduanya telah ditakdirkan atas kamu, maka keduanya mesti terjadi, baik kamu makan atau tidak. Apabila kedua-duanya tidak di takdirkan, maka hal itu tidak mungkin terjadi baik kamu makan atau kamu tidak makan.
                Apabila kamu telah ditakdirkan mempunyai seorang anak, maka hal itu mesti terjadi, baik kamu melakukan persetubuhan dengan istri maupun tidak. Bila kamu tidak ditakdirkan mempunyai anak, maka hal itu tidak akan terjadi. Sehingga kamu tidak perlu beristri atau memelihara gundik. Begitu seterusnya.
                Maka, pantaskah manusia yang berakal ini berpendapat demikian? Sedang hewan saja tetap terikat hukum sebab musabab guna melangsungkan kehidupanya. Maka, orang yang berpendapat demikian sama dengan bintang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
                Satu sama lain antara mereka saling menampakan kepandaiannya. Ada yang mengatakan, “menyibukkan diri dalam berdoa adalah termsuk kategori ibadah murni yang mana allah akan memberikan pahala kepada orang yang berdoa. Dengan cara apapun doa tersebut tidak akan membuahkan hasil sesuai dengan yang diminta. Di sini, menurut pendapat orang yang berlagak pandai ini tidak ada perbedaan antara berdoa dan tidak berdoa dengan sepenuh hati dan mulut dalam hal menghasilkan sesuatu yang diminta. Menurut mereka hubungan doa dengan keberhasilan sesuatu yang diminta adalah sama dengan hubungan diam tak berdoa tidak ada bedanya sama sekali.
                Kelompok lain yang lebih pandai dari mereka berpendapat: bahwa doa merupakan suatu tanda yang ditancapkan oleh allah swt. Sebagai bukti atas terpenuhinya suatu kebutuhan. Apabila allah berkenan mengabulkan doa seorang hamba, maka ini berarti suatu tanda dan bukti bahwa kebutuhanny telah terpenuhi. Hal ini sama halnya bila kamu melihat adanya awan hitam yang dingin di musim hujan. Itu sebagai tanda akan turun hujan.
                Mereka mengatakan, itu akibat dari ketaatan yang akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, kekufuran dan kemaksiatan akan mendapatkan siksa. Ini sebagai bukti adanya pahala siksaan, bukan suatu sebab terjadinya pahala dan siksaan tadi.
                Demikian juga menurut mereka masalah pecah dan pemecahan, terbakar dan pembakaran, terlepasnya nyawa dan pembunuhan. Hal tersebut bukan merupakan suatu sebab yang pasti. Juga tidak ada hubungan sebab musabab antara keduanya, kecuali hnya kebetulan belaka. Bukan hubungan sebab akibat.
                Dengan demikian berarti mereka telah menentang perasaan, pikiran, syri’at agama, dan fitrahnya sendiri. Mereka ditertawakan oaring-orang yang berakal.
                Yang benar adalah kelompok yang ketiga yang tidak disebutkan oleh si penanya, yakni sesuatu yang telah ditakdirkan allah itu bisa terjadi sesuai dengan kadar penyebabnya, di antara penyebabnya adalah doa. Sesuatu perkara tidak akan terjadi tanpa ada penyebabnya. Tetapi hal itu terjadi sesuai dengan kadar sebab yang dilakukan.
                Apabila seorang hamba melakukan suatu sebab, maka akan terjadi sesuatu yang ditakdirkan. Tetapi bila ia tidak melakukan penyebabnya, maka tidak akan terjadi sesuatu yang di takdirkan. Misalnya, takdir kenyang dan segar setelah makan dan minum. Takdir punya anak setelah adanya persetubuhan. Takdir memperoleh hasil pertanian sebab menebarkan benih. Takdir keluarnya nyawa seekor hewan karena disembelih. Demikian pula takdir masuk surge karena amal-amalnya pula.
                Pendapat inilah yang benar. Namun pendapat ini ditolak si penanya, sebab tidak sependapat dengannya.
Read More

SYARAT-SYARAT TERKABULNYA DOA

0
                Doa-doa dan ta’awudz kedudukannya sama dengan kedudukan senjata. Senjata dapat membahayakan orang lain bukan hanya karena ketajamanya saja.
                Jika senjata tersebut benar-benar sempurna, tidak terdapat cacat sedikit pun, sedang tangan yang menggunakannya adalah tangan orang yang kekar, dan disana tidak terdapat sesuatu yang menghalanginya, maka senjata tersebut dapat melukai musuh. Apa bila salah satu ketentuan tersebut tidak terpenuhi maka hasilnya akan berbeda.
                Apabila doa yang dibacanya itu tidak benar, atau ketika berdoa orang tersebut tidak sepenuh hati, atau disana terdapat sesuatu yang dapat menghalangi terkabulnya doa, maka doa tersebut tidak akan menghasilkan sesuatu. 
Read More