Selasa, 14 Agustus 2012

HUBUNGAN KEBAIKAN DAN KEJELEKAN DENGAN AMAL


                Di dalam al qur’an allah swt. Menghubungkan terjadinya kebaikan di dunia dan akhirat serta terjadinya kejelekan di dunia dan akhirat dengan segala amal perbuatan. Sebagaimana dikaitkanya pembalasan seelah adanya syarat, di beri alasan setelah dan akibat setelah sebab. Masalah ini di dalam al qur’an disebutkan lebih dari seribu tempat.
                Suatu ketika allah meletakkan hukum ala mini dan segala sesuatu yang berhubungan dengan syariat agama setelah adanya sifat yang sesuai dengannya, sebagaimana firman allah swt:
“ maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang di larang mereka mengerjakanya. Kami katakana kepada mereka, jadilah kamu kera yang hina.”(QS. Al A’raf: 166)
“maka tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya(di dalam laut).” (QS. Az Zukhruf: 55)
“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Maidah: 38)
“sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatanya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’,  laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatanya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) allah, allah telah menyediakan untu mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
Dua ayat-ayat yang seperti ini masih banyak lagi.
Suatu ketika allah menghubungkanya dengan menggunakan susunan syarat dan balasanya, sebagai mana disebutkan dalam firmanya:
“ jika kamu bertakwa kepada allah, niscaya dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu.” (QS. Al anfal: 29)
“jika mereka bertobat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat maka (mereka itu) adalah saudara-saudara seagama.” (QS. At Taubah: 11)
“dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (QS. Al jin: 16)
Suatu ketika pula allah menggunakan lam ta’lil (lam yang berfungsi untuk memberikan alas an,-penerj.) sebagaimana disebutkan dalam firman-nya:
“supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)
“…agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al Baqarah: 143)
Terkadang menggunakan partikel ‘kay’ yang mempunyai arti memberikan argumentasi, sebagai mana firman allah swt. :
“… supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu. (QS. Al hasyr: 7)
Terkadang juga menggunakan ba’ sababiyah (untuk menerangkan akibat dari suatu perbuatan,-penerj.), sebagai mana tercantum dalam firmanya:
“…(azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri.” (QS.Ali Imran: 182)
“…(dia akan menerangkan kepadamu) apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al  Maidah: 105)
“…(maka rasakanlah siksaan) karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” (QS. Al A’raf: 39)
“… yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat allah.” (QS. Ali Imran: 112)
 Terkadang pula menggunakan maf’ul li-ajlih (menjelaskan tentang sesuatu yang dilakukan demi kepentingan tertentu,-penerj.) baik dijelaskan secara lafal atau dibuang, sebagaimana tercantum dalam firman-nya:
“…(jika tak ada dua orang laki-laki), maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.” (QS. AL Baqarah: 282)
“…(kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan,’sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap masalah ini (ke-esaan allah).” (QS. Al A’raf: 172)
“…(kami turunkan al qur’an itu)  agar kamu (tidak) mengatakan,’bahwavkitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami.” (QS. Al An’am: 156)
Terkadang menggunakan fa’ sababiyah, sebagaimana disebutkan dalam firman-nya:
“lalu mereka mendustakanya dan menyembelih unta itu. Maka, tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu allah menyamaratakan mereka(dengan tanah).” (QS. Asy Syams: 14)
“maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul tuhan mereka, lalu allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.” (QS. Al Haqqah: 10)
“maka(tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan.” (QS. Al Mukminun: 48)
Terkadang menggunakan partikel ‘lamma’ yang menunjukkan adanya pembalasan, sebagaimana tersebut dalam firman-nya:
“maka tatkala membuat kami murka, kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (QS. Az Zukhruf: 55)
Terkadang menggunakan ‘inna dan yang sepandan’, sebagaimana tersebut dalam firman-nya:
“… seungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik.” (QS. Al Anbiya: 90)
Dan firman mengenai golongan kebalikan mereka:
“… seungguhnya bmereka adalah kaum yang jahat, maka kami tengelamkan mereka semuanya.” (QS. Al Anbiya: 77)
Menggunakan partikel ‘Laula’ yang menunjukkan hubungan kata, sebelumnya dengan yang sesudahnya, sebagai mana tersebut dalam firman-nya:
“maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”(QS. Ash Shaffat: 143-144)
Terkadang menggunakan ‘lau’ yang menunjukkan syarat, sebagaimana fiman-nya:
“… dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tetulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (imam mereka).” (QS. An Nisa: 66)
Kesimpulanya, al qur’an mulai dari awal sampai akhir dengan jalan menerangkan tentang hubungan balasan kebaikan dan kejahatan hukum-hukum alam dan perintah agama sesuai dengan sebab akibat, bahkan hubungan hukum-hukum duniawi dan ukhrawi, kebaikan dan kejelekanya tergantung kepada sebab akibat dan amal-amal yang dilakukanya.
Orang yang mau memikirkan masalah ini dengan pemikiran yang jernih niscaya ia dapat mengambil manfaat secara maksimal dan tidak akan menggantungkan diri kepada takdir yang belum diketahui. Lemah, gegabah, dan lalai. Sehingga sifat tawakalnya itu suatu kelemahan dan kelemahanya adalah tawakalnya. ( antara tawakal dan kelemahanya tidak dapat dibeda-bedakan,-penerj.)
Orang faqih benar-benar paham pada agama adalah orang yang dapat menolak atau menghalangi takdir allah dengan menggunakan takdir itu sendiri. Bahkan tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa mempunyai sikap yang demikian. Ketahuilah, bahwasanya lapar, dahaga, dingin, dan segala macam rasa khawatir dan takut berasal dari takdir. Sedangkan manusia kebanyakan lupa menghalau takdir allah dengan menggunakan takdir itu sendiri.
Demikianlah orang yang telah mendapatkan petunjuk dan ilham kebenaran dari allah. Ia akan berusaha menolak takdir siksa di akhirat dengan menggunakan takdir bertobat, iman dan amal-amal shaleh. Demikianlah keseimbangan takdir yang terjadi di dunia dan kebalikanya adalah sama. Tuhan yang menguasai kedua ala mini (dunia dan akhirat) adalah satu dan kebijaksanaanya pun juga hanya satu. Satu sama lain tidak saling bertentangan dan tidak saling membatalkan.
Masalah ini penting untuk diketahui bagi orang yang ingin memahami kedudukan takdir dalam kehidupan. Hanya kepada allah-lah kita memohon pertolongan.
Tetapi, di sini masi ada dua masalah yang dapat menuntukan kebahagiaan dan keberuntungan seseorang.
Di antaranya, ia harus mengetahui rincian masing-masing sebab terjadinya kejelekan dan kebaikan. Ia harus peka dan waspada terhadap sebab-sebab tersebut sesuai dengan kejadian yang ia liat di dunia ini. Atau yang terjadi atas dirinya dan orang lain, termasuk apa yang pernah ia dengar tentang cerita orang-orang dulu dan orang-orang sekarang.

0 komentar:

Posting Komentar