Di
dalam al qur’an allah swt. Menghubungkan terjadinya kebaikan di dunia dan
akhirat serta terjadinya kejelekan di dunia dan akhirat dengan segala amal
perbuatan. Sebagaimana dikaitkanya pembalasan seelah adanya syarat, di beri
alasan setelah dan akibat setelah sebab. Masalah ini di dalam al qur’an
disebutkan lebih dari seribu tempat.
Suatu
ketika allah meletakkan hukum ala mini dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan syariat agama setelah adanya sifat yang sesuai dengannya, sebagaimana
firman allah swt:
“ maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang di
larang mereka mengerjakanya. Kami katakana kepada mereka, jadilah kamu kera
yang hina.”(QS. Al A’raf: 166)
“maka tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum
mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya(di dalam laut).” (QS. Az Zukhruf:
55)
“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri,
potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al Maidah: 38)
“sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki
dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatanya,
laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar,
laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki
dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki
dan perempuan yang menjaga kehormatanya, laki-laki dan perempuan yang banyak
menyebut (nama) allah, allah telah menyediakan untu mereka ampunan dan pahala
yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
Dua ayat-ayat yang seperti ini
masih banyak lagi.
Suatu ketika allah menghubungkanya
dengan menggunakan susunan syarat dan balasanya, sebagai mana disebutkan dalam
firmanya:
“ jika kamu bertakwa kepada allah,
niscaya dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu.” (QS. Al anfal: 29)
“jika mereka bertobat, mendirikan
shalat dan menunaikan zakat maka (mereka itu) adalah saudara-saudara seagama.”
(QS. At Taubah: 11)
“dan bahwasanya: jika mereka tetap
berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), benar-benar kami akan memberi
minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (QS. Al jin: 16)
Suatu ketika pula allah menggunakan
lam ta’lil (lam yang berfungsi untuk memberikan alas an,-penerj.) sebagaimana
disebutkan dalam firman-nya:
“supaya mereka memperhatikan
ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang mempunyai
pikiran.” (QS. Shad: 29)
“…agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)
kamu.” (QS. Al Baqarah: 143)
Terkadang menggunakan partikel
‘kay’ yang mempunyai arti memberikan argumentasi, sebagai mana firman allah
swt. :
“… supaya harta itu tidak hanya
beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu. (QS. Al hasyr: 7)
Terkadang juga menggunakan ba’
sababiyah (untuk menerangkan akibat dari suatu perbuatan,-penerj.), sebagai
mana tercantum dalam firmanya:
“…(azab) yang demikian itu adalah
disebabkan perbuatan tanganmu sendiri.” (QS.Ali Imran: 182)
“…(dia akan menerangkan kepadamu)
apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al
Maidah: 105)
“…(maka rasakanlah siksaan) karena
perbuatan yang telah kamu lakukan.” (QS. Al A’raf: 39)
“… yang demikian itu karena mereka
kafir kepada ayat-ayat allah.” (QS. Ali Imran: 112)
Terkadang pula menggunakan maf’ul li-ajlih
(menjelaskan tentang sesuatu yang dilakukan demi kepentingan tertentu,-penerj.)
baik dijelaskan secara lafal atau dibuang, sebagaimana tercantum dalam
firman-nya:
“…(jika tak ada dua orang
laki-laki), maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari
saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi
mengingatkannya.” (QS. AL Baqarah: 282)
“…(kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan,’sesungguhnya kami (bani adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap masalah ini (ke-esaan allah).” (QS. Al
A’raf: 172)
“…(kami turunkan al qur’an
itu) agar kamu (tidak)
mengatakan,’bahwavkitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum
kami.” (QS. Al An’am: 156)
Terkadang menggunakan fa’
sababiyah, sebagaimana disebutkan dalam firman-nya:
“lalu mereka mendustakanya dan
menyembelih unta itu. Maka, tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka,
lalu allah menyamaratakan mereka(dengan tanah).” (QS. Asy Syams: 14)
“maka (masing-masing) mereka
mendurhakai rasul tuhan mereka, lalu allah menyiksa mereka dengan siksaan yang
sangat keras.” (QS. Al Haqqah: 10)
“maka(tetaplah) mereka mendustakan
keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan.” (QS.
Al Mukminun: 48)
Terkadang menggunakan partikel
‘lamma’ yang menunjukkan adanya pembalasan, sebagaimana tersebut dalam
firman-nya:
“maka tatkala membuat kami murka,
kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).” (QS.
Az Zukhruf: 55)
Terkadang menggunakan ‘inna dan
yang sepandan’, sebagaimana tersebut dalam firman-nya:
“… seungguhnya mereka adalah
orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang
baik.” (QS. Al Anbiya: 90)
Dan firman mengenai golongan
kebalikan mereka:
“… seungguhnya bmereka adalah kaum
yang jahat, maka kami tengelamkan mereka semuanya.” (QS. Al Anbiya: 77)
Menggunakan partikel ‘Laula’ yang
menunjukkan hubungan kata, sebelumnya dengan yang sesudahnya, sebagai mana
tersebut dalam firman-nya:
“maka kalau sekiranya dia tidak
termasuk orang-orang yang banyak mengingat allah, niscaya ia akan tetap tinggal
di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”(QS. Ash Shaffat: 143-144)
Terkadang menggunakan ‘lau’ yang
menunjukkan syarat, sebagaimana fiman-nya:
“… dan sesungguhnya kalau mereka
melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tetulah hal yang demikian
itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (imam mereka).” (QS. An Nisa:
66)
Kesimpulanya, al qur’an mulai dari
awal sampai akhir dengan jalan menerangkan tentang hubungan balasan kebaikan
dan kejahatan hukum-hukum alam dan perintah agama sesuai dengan sebab akibat,
bahkan hubungan hukum-hukum duniawi dan ukhrawi, kebaikan dan kejelekanya tergantung
kepada sebab akibat dan amal-amal yang dilakukanya.
Orang yang mau memikirkan masalah
ini dengan pemikiran yang jernih niscaya ia dapat mengambil manfaat secara
maksimal dan tidak akan menggantungkan diri kepada takdir yang belum diketahui.
Lemah, gegabah, dan lalai. Sehingga sifat tawakalnya itu suatu kelemahan dan
kelemahanya adalah tawakalnya. ( antara tawakal dan kelemahanya tidak dapat
dibeda-bedakan,-penerj.)
Orang faqih benar-benar paham pada
agama adalah orang yang dapat menolak atau menghalangi takdir allah dengan
menggunakan takdir itu sendiri. Bahkan tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa
mempunyai sikap yang demikian. Ketahuilah, bahwasanya lapar, dahaga, dingin,
dan segala macam rasa khawatir dan takut berasal dari takdir. Sedangkan manusia
kebanyakan lupa menghalau takdir allah dengan menggunakan takdir itu sendiri.
Demikianlah orang yang telah
mendapatkan petunjuk dan ilham kebenaran dari allah. Ia akan berusaha menolak
takdir siksa di akhirat dengan menggunakan takdir bertobat, iman dan amal-amal
shaleh. Demikianlah keseimbangan takdir yang terjadi di dunia dan kebalikanya
adalah sama. Tuhan yang menguasai kedua ala mini (dunia dan akhirat) adalah
satu dan kebijaksanaanya pun juga hanya satu. Satu sama lain tidak saling
bertentangan dan tidak saling membatalkan.
Masalah ini penting untuk diketahui
bagi orang yang ingin memahami kedudukan takdir dalam kehidupan. Hanya kepada
allah-lah kita memohon pertolongan.
Tetapi, di sini masi ada dua
masalah yang dapat menuntukan kebahagiaan dan keberuntungan seseorang.
Di antaranya, ia harus mengetahui
rincian masing-masing sebab terjadinya kejelekan dan kebaikan. Ia harus peka
dan waspada terhadap sebab-sebab tersebut sesuai dengan kejadian yang ia liat
di dunia ini. Atau yang terjadi atas dirinya dan orang lain, termasuk apa yang
pernah ia dengar tentang cerita orang-orang dulu dan orang-orang sekarang.

0 komentar:
Posting Komentar