Dalam masalah ini terdapat pernyataan yang sangat terkenal,
yaitu:
Bahwa
sesuatu yang diminta bila telah ditakdirkan oleh allah, maka hal tersebut mesti
terjadi baik hamba tersebut berdoa maupun tidak. Apabila yang diminta itu tidak
ditakdirkan oleh allah, maka hal tersebut tidak munggkin terjadi, baik hamba
itu memintanya atau tidak.
Ada
sekelompok orang yang membenarkan pernyataan ini, sehingga mereka tidak perlu
berdoa. Meraka mengataka, doanya tidak berguna sama sekali. Di antara kelompok
ini sendiri juga timbul bertentangan. Kekerasan pendapatnya itu mengakibatkan
tidak dipenuhinya semua sebab, sehingga ada yang mengatakan kepada mereka:
Jika
kenyang dan rasa segar itu keduanya telah ditakdirkan atas kamu, maka keduanya
mesti terjadi, baik kamu makan atau tidak. Apabila kedua-duanya tidak di
takdirkan, maka hal itu tidak mungkin terjadi baik kamu makan atau kamu tidak
makan.
Apabila
kamu telah ditakdirkan mempunyai seorang anak, maka hal itu mesti terjadi, baik
kamu melakukan persetubuhan dengan istri maupun tidak. Bila kamu tidak
ditakdirkan mempunyai anak, maka hal itu tidak akan terjadi. Sehingga kamu
tidak perlu beristri atau memelihara gundik. Begitu seterusnya.
Maka,
pantaskah manusia yang berakal ini berpendapat demikian? Sedang hewan saja
tetap terikat hukum sebab musabab guna melangsungkan kehidupanya. Maka, orang
yang berpendapat demikian sama dengan bintang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Satu sama
lain antara mereka saling menampakan kepandaiannya. Ada yang mengatakan, “menyibukkan
diri dalam berdoa adalah termsuk kategori ibadah murni yang mana allah akan
memberikan pahala kepada orang yang berdoa. Dengan cara apapun doa tersebut
tidak akan membuahkan hasil sesuai dengan yang diminta. Di sini, menurut
pendapat orang yang berlagak pandai ini tidak ada perbedaan antara berdoa dan
tidak berdoa dengan sepenuh hati dan mulut dalam hal menghasilkan sesuatu yang
diminta. Menurut mereka hubungan doa dengan keberhasilan sesuatu yang diminta
adalah sama dengan hubungan diam tak berdoa tidak ada bedanya sama sekali.
Kelompok
lain yang lebih pandai dari mereka berpendapat: bahwa doa merupakan suatu tanda
yang ditancapkan oleh allah swt. Sebagai bukti atas terpenuhinya suatu
kebutuhan. Apabila allah berkenan mengabulkan doa seorang hamba, maka ini
berarti suatu tanda dan bukti bahwa kebutuhanny telah terpenuhi. Hal ini sama
halnya bila kamu melihat adanya awan hitam yang dingin di musim hujan. Itu sebagai
tanda akan turun hujan.
Mereka mengatakan,
itu akibat dari ketaatan yang akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, kekufuran
dan kemaksiatan akan mendapatkan siksa. Ini sebagai bukti adanya pahala
siksaan, bukan suatu sebab terjadinya pahala dan siksaan tadi.
Demikian
juga menurut mereka masalah pecah dan pemecahan, terbakar dan pembakaran,
terlepasnya nyawa dan pembunuhan. Hal tersebut bukan merupakan suatu sebab yang
pasti. Juga tidak ada hubungan sebab musabab antara keduanya, kecuali hnya
kebetulan belaka. Bukan hubungan sebab akibat.
Dengan demikian
berarti mereka telah menentang perasaan, pikiran, syri’at agama, dan fitrahnya
sendiri. Mereka ditertawakan oaring-orang yang berakal.
Yang benar
adalah kelompok yang ketiga yang tidak disebutkan oleh si penanya, yakni
sesuatu yang telah ditakdirkan allah itu bisa terjadi sesuai dengan kadar
penyebabnya, di antara penyebabnya adalah doa. Sesuatu perkara tidak akan
terjadi tanpa ada penyebabnya. Tetapi hal itu terjadi sesuai dengan kadar sebab
yang dilakukan.
Apabila
seorang hamba melakukan suatu sebab, maka akan terjadi sesuatu yang
ditakdirkan. Tetapi bila ia tidak melakukan penyebabnya, maka tidak akan
terjadi sesuatu yang di takdirkan. Misalnya, takdir kenyang dan segar setelah
makan dan minum. Takdir punya anak setelah adanya persetubuhan. Takdir memperoleh
hasil pertanian sebab menebarkan benih. Takdir keluarnya nyawa seekor hewan
karena disembelih. Demikian pula takdir masuk surge karena amal-amalnya pula.
Pendapat
inilah yang benar. Namun pendapat ini ditolak si penanya, sebab tidak
sependapat dengannya.

0 komentar:
Posting Komentar